Usia Berapa Sebaiknya Anak Belajar Baca Tulis?

 

Di zaman yang semakin kompetitif ini, tidak sedikit orangtua yang hendak anaknya lebih unggul dikomparasikan anak seusianya. Salah satu ukuran yang dipakai ialah melalui keterampilan baca tulis. Bahkan kurikulum baca tulis yang dulu baru diajarkan saat anak masuk Sekolah Dasar, kini sudah terdapat di jenjang Taman Kanak-Kanak atau Kelompok Bermain. Benarkah semakin dini anak belajar baca tulis bakal menilai prestasi akademisnya kelak? Atau sebaliknya justeru membahayakan anak?

Sistem proprioseptif ialah kemampuan seorang anak guna mengetahui eksistensi dan posisi tubuhnya. Bila sistem ini sudah berkembang dengan baik, anak bisa merasakan eksistensi anggota-anggota tubuhnya tanpa mesti menyaksikan atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem proprioseptif sangat sehubungan dengan keterampilan untuk duduk tenang dan memfokuskan perhatian.

Jika sistem ini belum matang, anak akan kendala dalam belajar baca tulis. Ia belum dapat membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk abstrak laksana huruf dan angka. Akibatnya dapat terjadi kebingungan, laksana antara huruf ‘b’ dan ‘d’, atau mencatat angka ‘2’ atau ‘3’ secara terbalik. Coba kita tulis huruf atau angka tersebut di punggung anak dengan jari Anda. Bisakah ia mengenalinya? Bila tidak, berarti sistem proprioseptifnya belum matang.

Waktu yang Tepat

Berdasarkan keterangan dari Susan R. Johnson -seorang dokter dan pakar pertumbuhan anak- membaca, menulis, dan melafalkan usahakan diajarkan secara formal saat anak telah siap secara jasmani dan neurologis (perkembangan saraf benak sudah matang). Ini seringkali terjadi ketika anak berusia 7 tahun. Anak yang belajar menyimak sebelum umur 7 tahun, seringkali menggunakan benak kanan. Otak kanan merupakan kenangan visual sampai-sampai anak mengenali huruf dan angka sebagai gambar.

Ketika diperkenalkan pada suatu kata, anak yang memakai otak kanan akan menilik huruf kesatu dan terakhir, serta panjang dan bentuknya secara keseluruhan. Mereka tidak jarang tidak menyadari urutan huruf dalam kata. Karena itu, anak-anak ini seringkali tidak menyaksikan perbedaan ketika diperlihatkan kata laksana ‘RUMBAT’ dengan ‘RAMBUT’.

Anak yang diajarkan menyimak dan melafalkan pada umur 7 tahun dapat mendengungkan kata tersebut, sampai-sampai dengan gampang menemukan kekeliruan eja sebuah kata. Untuk bisa belajar menyimak secara formal, pusat baca di benak kiri mesti berkembang. Pusat menyimak ini yang menciptakan anak dapat untuk belajar menyimak secara fonetik (huruf ke huruf), sampai-sampai mereka juga dapat melafalkan kata-kata.

Semakin dini seorang anak belajar baca tulis belum pasti ia menjadi lebih cerdas dan berhasil di masa mendatang. Dari riset ditemukan bahwa terlampau cepat mengajarkan baca tulis dapat menciptakan anak merasakan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan perilaku, bahkan berisiko merasakan stres, depresi dan gangguan mental lainnya pada ketika remaja dan dewasa.

Di umur dini, anak belajar melewati bermain. Bermain adalahdasar untuk perkembangan kognitif, sosial dan emosional anak. Pada langkah ini, otak, fisik, dan mental distimulasi supaya berkembang baik sampai-sampai siap guna menerima proses belajar yang lebih perumahan di lantas hari. Itulah sebabnya, Finlandia, sebagai negara dengan sistem edukasi terbaik di dunia juga baru mengawali pembelajaran formal seperti menyimak dan mencatat di umur 7 tahun.

Leave a Comment